<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5664509738247060557</id><updated>2011-08-01T15:41:26.778-07:00</updated><title type='text'>Ekonomi Jaringan (Harmonia in Progressio)</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ekonominet.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Deni Iman Kertabudi,ST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10227584966634094311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mWFtbfAmx5A/SZKuFrGLILI/AAAAAAAAAAM/5QzKPJQROZI/S220/deni.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5664509738247060557.post-311809751227028465</id><published>2010-07-27T09:10:00.000-07:00</published><updated>2010-07-27T09:22:26.477-07:00</updated><title type='text'>Membangun kembali komunitas (melalui pendidikan)</title><content type='html'>Menghidupkan dan membedayakan kembali komunitas&lt;br /&gt;Setelah sekian lama saya tidak menulis, rasanya akan tetap menjadi pertanyaan sulitnya memancing masyarakat Indonesia agar membentuk komunitas, masyarakat kelihatnnya lebih cenderung tertarik ke masalah yang lebih instan dan popular terutama terkait dengan keuntungan secara langung dan berbentuk uang.&lt;br /&gt;Ada ide kembali muncul, ketika komunitas ekonomi sulit dibentuk dikarenakan beberapa hal, padahal secara teoritis permasalahan kemiskinan dan pendapatan lebih dekat dengan permasalahan ekonomi tersebut, bisa berbentuk tidak ada/kurangnya akses terhadap kesempatan untuk mendapatkan penghasilan atau meningkatkannya mungkin karena kalah bersaing, rentenir dan kartel dll.&lt;br /&gt;Jika kita melihat hal yang paling mendasar berkaitan dengan gaya hidup saat ini adalah fenomena sector pendidikan. Sector kesehatan mungkin saja tapi masyarakat kita lebih menempatkan kesehatan sebagai kendala sehingga jarang untuk melakukan antisipatif artinya permasalahan kesehatan akan dianggap sebagai hal yang penting jika terjadi wabah. Berbeda halnya dengan peran pendidikan, ada hal yang bersifat popular dan gengsi di sana. Pada saat ini banyak masyarakat terutama keluarga muda memasukan anaknya ke pendikan anak usia dini dari yang mahal sampai ke informal (murah meriah) namun mungkin karena keterbatasan dana dan entah kenapa pendidikan lanjutan formal (SD, SMP, SMA, PT) menjadi terasa mahal bagi masyarakat, pendidikan akan sampai di situ saja. Kita patut memberikan apresiasi terhadap menjamur dan berkembangnya lembaga pendidikan PAUD termasuk yang non formal, walaupun dengan guru yang seadanya dan pendidikan di luar standar tapi tetap mampu menyelenggarakan pendidikan murah. Dan tidak terasa akan terbentukalah komunitas komunitas pendidikan. Ke depan komunitas ini akan menjadi tonggak dalam menjembatani permasalahan kesehatan, ekonomi bahkan kemiskinan. Rupanya masyarakat komunitas mestinya dapat memanfaatkan tonggak diberlakukannya anggaran 20% sector pendidikan di luar gaji guru dan berupaya agar sistem formal (pemerintah / eksekutif dan legislatif) tidak melakukan kebijakan yang mubazir karena terbatasnya ide dalam memanfaatkan anggaran tersebut dalam melakukan kebijakan pendidikan.&lt;br /&gt;Arah pendidikan Indonesia dengan masyarakat dan kondisi yang heterogen di bawah garis kemiskinan haruslah membuat anggaran tersbut menjadi pemicu sector lainnya seperti yang diutarakan di atas.&lt;br /&gt;Di manakah peran pendidikan terhadap sector lainnya, mari kita jelaskan kembali mengenai kedudukan PAUD yang membuat para orang tua rela mengeluarkan uangnya demi kasih sayang kepada anaknya. Dengan berdirinya PAUD maka akan terciptalah komunitas. Yang berkaitan dengan PAUD a.l guru, murid, orang tua, lingkungan PAUD, pedagang dan sistem kesehatan yang berkaitan dengan perlindungan terhadap kesehatan anak. Komunitas ini akan terjaga terus sehingga sebenarnya intervensi program dapat diaksanakan di sini secara efesien dan efektif. Selain pendidikan meliputi program kesehatan, ekonomi (ukm dan koperasi), pemberdayaan masyarakat dan penanganan kemiskinan dll. Namun yang menjadi pertanyaan muncul adalah sejauh mana balita yang dilahirkan ditampung melalui lembaga PAUD ini? Tentunya diperlukan pendataan yang akurat.&lt;br /&gt;Hal yang sama dapat dilakukan pada tingkat sekolah dasar, kesampingkan permasalahan SD negeri karena sungguh terlalu banyak permasalahan di dalammnya termasuk juga pemasalahan biaya dan jarak ke sekolah tersebut. Jika memungkinkan komunitas/masyarakat yang berinisiatif dapat membentuk lembaga sd non formal di luar batas yang telah standar dengan guru yang ada di sekitarnya namun mempunyai komitmen seperti yang dilakukan terhdap lembaga PAUD. Bisa saja guru tersebut tamatan SD, SMP atau SMA, mungkin kita ingat model perguruan Taman Siswa nya Ki hajar Dewantara. Model pembelajarannya pun dapat berbagai macam dan berbagai cara, toh yag diujikan ketika siswa lulus dari SD masih itu-itu juga. Setelah itu diharapakan model komunitas PAUD dapat berjalan. Demikian pula dengan sekolah menengah (SLTP maupun SLTA)&lt;br /&gt;Komunitas pun dapat menerapkan model pendidikan keterampilan yang tidak harus terpaku kepada guru yang ber gelar seperti bengkel las ke tukang las, bengkel ban, kendaraan, kue, kerajinan atau bekerjasama dengan LSM pemberdayaan masyarakat.&lt;br /&gt;Mungkin perlu dipetakan terlebih dahulu melaui pilot projek komunitas PAUD, model komunitas ini terutama akan sangat berguna untuk masyarakat terpencil, perdesaan dan masyarakat tunawisma perkotaan.&lt;br /&gt;Diharapakan dengan demikian komunitas pendidikan yang pada saat ini sebenarnya telah terbentuk secara alamiah melalui komunitas PAUD dapat menjadi bola salju untuk menciptakan komunitas-komunitas yang pada saat ini sulit terbentuk terutama karena serangan program-program pemerintah dalam penanggualangan kemiskinan yang gagal memberdayakan masyarakat yang justru menjadikan masyarakat menjadi tergantung terhadap bantuan pemerintah terutama yang langsung dalam bentuk uang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5664509738247060557-311809751227028465?l=ekonominet.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekonominet.blogspot.com/feeds/311809751227028465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2010/07/membangun-kembali-komunitas-melalui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/311809751227028465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/311809751227028465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2010/07/membangun-kembali-komunitas-melalui.html' title='Membangun kembali komunitas (melalui pendidikan)'/><author><name>Deni Iman Kertabudi,ST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10227584966634094311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mWFtbfAmx5A/SZKuFrGLILI/AAAAAAAAAAM/5QzKPJQROZI/S220/deni.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5664509738247060557.post-8801714135330878872</id><published>2009-04-20T21:33:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T21:50:34.655-07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Negara Miskin Bangladesh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada malam tadi kebetulan melihat acara tvone mengenai usaha Rakyat negara miskin Bangladesh untuk membangun dan meninggalkan keterpurukannya. Adalah Brac sebuah usaha permodalan dan bank yang merupakan bagian dari NGO nya Bangladesh dengan mengadopsi prinsip keuangan mikro (mikrokredit), dengan mengadopsi grameen bank. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Kredit keuangan mikro tanpa agunan untuk masyarakat yang miskin (dari yang miskin) dengan syarat berkelompok dengan maksud jika ada anggota kelompok kesulitan membayar maka anggota lainnya yang berusaha membayar kreditnya.&lt;br /&gt;2. Pengembangan internet perdesaan dengan maksud agar petani mendapatkan informasi harga sebenarnya ketika bernegosiasi dengan petani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga digambarkan oleh televisi NHK jepang bahwa Dhaka menunjukan kekuatan orang miskin, kekuatan baru tanpa peran serta pemerintahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya ketika dulu mencoba memancing konsep ekonomi di FB, ada seorang teman yang menyarankan untuk mempelajari konsep ekonomi mikro grameen bank, hanya pada umumnya media massa tidak secara jelas mengemukakan konsepnya tersebut sehingga membuat kalangan miskin di Bangladesh meningkat derajat hidupnya. Ternyata inti dari penyelesaian masalah setelah melihat tayangan tersebut adalah  utang kredit diselesaikan secara bersama pada suatu kelompok (yang 5 orang tersebut) sehingga sesama anggota kelompok tersebut saling bekerjasama dan tolong menolong, hal ini mirip dengan konsep koperasi minimax hanya mekanisme kreditnya mungkin masih konvensional (sistem bunga), kalau di negara tersebut berhasil kenapa di Indonesia tidak? Ternyata banyak sekali alternatif mekanisme ekonomi yang ditawarkan untuk manusia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5664509738247060557-8801714135330878872?l=ekonominet.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekonominet.blogspot.com/feeds/8801714135330878872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/04/belajar-dari-negara-miskin-bangladesh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/8801714135330878872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/8801714135330878872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/04/belajar-dari-negara-miskin-bangladesh.html' title='Belajar dari Negara Miskin Bangladesh'/><author><name>Deni Iman Kertabudi,ST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10227584966634094311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mWFtbfAmx5A/SZKuFrGLILI/AAAAAAAAAAM/5QzKPJQROZI/S220/deni.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5664509738247060557.post-88775149507716430</id><published>2009-03-26T19:14:00.000-07:00</published><updated>2009-03-26T19:43:34.891-07:00</updated><title type='text'>ekonomi berbasis komunitas</title><content type='html'>Salah satu hal yang penting dari suksesnya ekonomi jaringan adalah ekonomi yang berbasis komunitas, mekanismenya dapat pula berbentuk koperasi minimax yang sebelumnya diterangkan.&lt;br /&gt;Terinspirasi oleh perkembangan pergerakan indie di bandung, mulai dari band indie beserta distro nya, film-film, sistem informasi (IT) serta bidang lainnya yang berawal dari komunitas sehingga menghasilkan nilai tambah bagi pergerakan ekonomi dan telah dikenal sebagai ekonomi kreatif. Perkembangannya memang pesat berawal dari terjadinya krisis eknomi yang menghantam indonesia kemudian lahirnya reformasi sebagai awal tonggak untuk berubah dan berinisiatif, namun demikian sentuhannya belum sampai pada tingkat pemanfaatan sumber daya alam dan teknologi terapan (selain IT/informasi Technology). Seperti kita ketahui, pada dasarnya, sumber daya alam seperti yang telah diatur dalam UUD 45 merupakan hak publik masyarakat indonesia, namun pada kenyataannya, hanya sedikit orang indonesia yang ikut ambil bagian dalam pemanfaatannya, oleh karena itu kita perlu mendorong pemerintah untuk membuat regulasi agar sumber daya alam dapat dikelola oleh komunitas termasuk mekanismenya, lihat saja perkembangan komunitas untuk menyediakan sumber tenaga listik melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro, apakah benar pemanfaatan hutan tidak bisa oleh suatu komunitas, toh selama ini kerusakan hutan dan pelanggaran hukum ternyata sebagian besar dilakukan oleh pengusaha besar, demikian pula dengan pertambangan, minyak bumi dan gas serta bentuk sumber alam lainnya.&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi terapan di cina perlu dicontoh, dimana untuk mengembangkan industri manufaktur, mesin dan teknologi penunjangnya sebagian diserahkan kepada komunitas, contohnya motor-motor china dan peralatan mesin pertanian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5664509738247060557-88775149507716430?l=ekonominet.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekonominet.blogspot.com/feeds/88775149507716430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/03/ekonomi-berbasis-komunitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/88775149507716430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/88775149507716430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/03/ekonomi-berbasis-komunitas.html' title='ekonomi berbasis komunitas'/><author><name>Deni Iman Kertabudi,ST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10227584966634094311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mWFtbfAmx5A/SZKuFrGLILI/AAAAAAAAAAM/5QzKPJQROZI/S220/deni.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5664509738247060557.post-7240724727562247991</id><published>2009-03-09T22:29:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T22:50:47.840-07:00</updated><title type='text'>Resesi Ekonomi</title><content type='html'>Dalam beberapa ulasan berbagai media disebutkan bahwa dunia kehilangan aset sampai saat ini (maret 2009) akibat resesi ekonomi sekitar 40 trilyun euro atau sekitar 60 trilyun dollar amerika. Berapapun itu nilainya yang pasti nilai aset sebesar itu tidak berpindah tangan kepada siapapun, tidak seperti sebelumnya krisis yang disebabkan pasar uang (salah satunya ulah G. Soros yang mengeruk keuntungan dari krisis tersebut), melainkan menghilang dalam artian memang lenyap. Tapi masyarakat dunia sampai saat ini masih tidak curiga akan kegagalan sistem ekonomi kapitalistik yang bercirikan spekulasi, ketidakadilan (yang dicerminkan pada bunga uang), dll (dapat dicari sendiri deh). Kenapa?,  sebagai akibat ekonomi kapitalistik, karena ekonomi tersebut hanya mengandalkan perhitungan berdasarkan matematis belaka tidak memasukan unsur sosial yang notabene dasar dari perkembangan ilmu ekonomi itu sendiri. Kalaupun ada unsur sosial hanyalah sebagai objek bukan subjek, karena dalam ekonomi kapitalis kebebasan individu sangat dijunjung tinggi apalagi di wilayah yang tidak ada kekuatan hukumnya.&lt;br /&gt;Jangan-jangan (hipotesa) &lt;u&gt;uang yang hilang&lt;/u&gt; tersebut memang memasuki ranah hukum kesetimbangan, kesetimbangan tersebut merupakan perwujudan penormalan kembali ke arah keadilan akibat dari spekulasi saham, minyak yang melambung tinggi, real estate, penerapan bunga pada kredit serta spekulasi lain (orang indonesia sudah sangat mengenal lama tuh), yang dikendalikan secara tidak real (jadi kesetimbangan tersebut memperlihatkan ekonomi yang real tersebut tidak seperti itu lho), makanya mungkin jika sistem ekonomi dunia tetap kapitalistik maka sistem akan mengalami hal tersebut kesetimbangan bersifat iteratif.&lt;br /&gt;Memang sulit mengubah paradigma sistem ekonomi dunia pada saat ini supaya adil (agar yang kuat tidak memakan yang lemah). Tapi dengan kesungguhan, sebenarnya arah itu menuju keadilan (karena manusia kebanyakan lemah dibanding sedikit yang kuat).&lt;br /&gt;Perlu diingat kembali disini bahwa peradaban dunia (silahkan dipikir secara logika) dibentuk dari hal yang baik sehingga manusia mencapai kemajuan seperti saat ini dibandingkan mahluk lainnya, jadi kemajuan yang dialami sekarang oleh umat manusia merupakan pilihan para nenek moyang kita untuk memilih sesuatu yang baik dibandingkan yang buruk (merusak)..... setujukah anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5664509738247060557-7240724727562247991?l=ekonominet.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekonominet.blogspot.com/feeds/7240724727562247991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/03/resesi-ekonomi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/7240724727562247991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/7240724727562247991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/03/resesi-ekonomi.html' title='Resesi Ekonomi'/><author><name>Deni Iman Kertabudi,ST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10227584966634094311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mWFtbfAmx5A/SZKuFrGLILI/AAAAAAAAAAM/5QzKPJQROZI/S220/deni.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5664509738247060557.post-5898054097143113234</id><published>2009-03-01T18:59:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T19:41:37.305-08:00</updated><title type='text'>pinjaman tanpa bunga koperasi minimax</title><content type='html'>koperasi minimax,&lt;br /&gt;pinjaman tanpa bunga,&lt;br /&gt;bisa, kenapa, dengan niat baik dan prinsip bagi hasil, ada beberapa anekdot yang bisa dibuat kita yakinkan bahwa harus ada prinsip kalau pingin makan kerja (bukan pinjam), kalau pingin pinjam buat kerja dengan cara bagi hasil, jadi prinsip pinjaman harus dirubah mainstreamnya menjadi konsep bagi hasil, di dalamnya terdapat makna kerjasama yang mendalam. Ketika untung kebagian untung ketika rugi sama-sama memberikan solusi untuk tetap menghasilkan keuntungan, ada hak dan kewajiban bersama dalam meningkatkan keuntungan. Kenapa harus berbentuk jaringan atau berbentuk beberapa anggota karena satu peminjam jika mengalami permasalahan dalam pengembalian akan dibantu oleh anggota lainnya dalam mengembalikan kemampuan peminjam mengembalikan pinjaman melalui saran bantuan teknis dan manajemen, oleh karena itu diperlukan anggota yang berniat baik secara kuat dan sabar. Semakin tinggi macam produk/usaha anggota akan semakin menguatkan jaringan untuk mandiri dan tidak pengaruh oleh ekonomi di luar jaringan (stabilitas). Hal ini berbeda dengan koperasi konvensional yang mengadopsi prinsip ekonomi konvensional (kapitalistik) dimana anggota hanya berperan melalui rapat anggota dan pada formalnya mewakilkan kemampuannya melalui pengurus. silahkan memberikan saran dan kritik.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kredit kepemilikan tanpa bunga bagaimana, ikuti selanjutnya...... (deni iman K)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5664509738247060557-5898054097143113234?l=ekonominet.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekonominet.blogspot.com/feeds/5898054097143113234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/03/koperasi-minimax-pinjaman-tanpa-bunga.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/5898054097143113234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/5898054097143113234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/03/koperasi-minimax-pinjaman-tanpa-bunga.html' title='pinjaman tanpa bunga koperasi minimax'/><author><name>Deni Iman Kertabudi,ST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10227584966634094311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mWFtbfAmx5A/SZKuFrGLILI/AAAAAAAAAAM/5QzKPJQROZI/S220/deni.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5664509738247060557.post-6236965046096270874</id><published>2009-02-26T17:53:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T18:55:12.763-08:00</updated><title type='text'>Koperasi Minimax</title><content type='html'>Mini artinya kecil, max artinya maksimal. Maksudnya koperasi minimax diperuntukkan untuk masyarakat kebanyakan yang menghasilkan daya tambah maksimal karena terhubung dalam suatu jaringan yang kuat dan saling membutuhkan. Konsep koperasi pada saat ini terjebak oleh pengaruh ekonomi konvensional yang berkembang pada saat ini yang lebih mengarah pada ekonomi kapitalistik. Dasar dan asas koperasi indonesia pada dasarnya sudah baik namun ketika dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari ekonomi kapitalistik ( yang pada dasarnya cirinya tidak adil, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, adopsi sistem kepengurusan serta manajemennya, hal ini dicerminkan oleh bunga baik pada pinjaman dan kredit) sehingga tak ayal banyak koperasi yang tidak menempatkan peran yang diharapkan bahkan sebaliknya memeras anggota kecil tanpa daya dan upaya dengan dalih kesejahteraan berasama, tengoklah harga-harga yang tidak pernah bersaing dan menempatkan koperasi sebagai tempat mencari nafkah.&lt;br /&gt;Mari kita rubah cara pandang dan pelaksanaan koperasi ini menjadi konsep bagi hasil, bekerja maju bersama untuk semua anggota, serta kredit kepemilikan tanpa bunga dan terhubung pada suatu jaringan yang kuat dan saling percaya sehingga penulis mencoba membedakan dengan konsep koperasi konvensional menjadi koperasi minimax.&lt;br /&gt;Bagaimana model pelaksanaannya, mungkin secara sederhana dapat dijelaskan disini bahwa setiap anggota berhak dan berkewajiban membantu anggota lainnya ketika mengalami permasalahan terutama dalam memberikan solusi secara real, sehingga salah satu kewajiban koperasi minimax adalah memberikan pendampingan dan bimbingan bagi kreditur yang bermasalah namun demikian setiap keuntungan akan bersifat bagi hasil. itu salah satunya, hal lainnya adalah ketika anggota melakukan kredit kepemilikan, biaya cicilan adalah tanpa bunga dengan harga barang adalah harga pasaran, karena keuntungan telah dilakukan dari harga barang tersebut oleh karena itu tidak selayaknya dikenakan bunga (prinsip keadilan). Depresiasi nilai mata uang merupakan pemaksaan pada konsep ekonomi konvensional sehingga dimanfaatan oleh spekulan dalam jual beli valuta. mari kita hilangkan konsep tersebut agar sistem ekonomi menjadi kuat setidaknya melalui jaringan.&lt;br /&gt;ditunggu komentarnya (deni iman kertabudi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5664509738247060557-6236965046096270874?l=ekonominet.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekonominet.blogspot.com/feeds/6236965046096270874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/02/koperasi-minimax.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/6236965046096270874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/6236965046096270874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/02/koperasi-minimax.html' title='Koperasi Minimax'/><author><name>Deni Iman Kertabudi,ST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10227584966634094311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mWFtbfAmx5A/SZKuFrGLILI/AAAAAAAAAAM/5QzKPJQROZI/S220/deni.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5664509738247060557.post-6001724347090669597</id><published>2009-02-23T01:01:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T01:49:44.578-08:00</updated><title type='text'>Tengkulak</title><content type='html'>Jangan-jangan memang tengkulak sangat berperan di negara kita, namun begitu definisi tengkulak dan rentenir selalu menjadi negatif ketika kita berada di kalangan masyarakat.&lt;br /&gt;Kita tetap harus memetakan keuntungan dan kerugian dari definisi tersebut berkaitan dengan perannya di masyarakat karena toh mereka sepertinya sangat dibutuhkan dan dinantikan secara real oleh masyarakat kecil (namun dianggap merugikan), ini terbukti dengan disfungsi koperasi yang notabene harusnya dapat menjadi wadahnya.&lt;br /&gt;Solusi? yang pasti kekuatan tengkulak lebih disebabkan kreatifitas dan kedudukannya yang lebih menguntungkan (tapi ingat banyak tengkulak juga yang gulung tikar dan amburadul karena usahanya itulah yang mereka telah siapkan sebagai bussinesmen), secara teoritis bahwa keinginan yang kuat, niat baik serta kesamaan dalam kebutuhan dapat menjadi pengganti kedudukan tengkulak tersebut, tadinya harapan tersebut tercurah pada koperasi, namun kenyataannya banyak hal yang menjadikan kegagalan. Maka dalam ekonomi modern harus cepat dirumuskan ekonomi kerakyatan itu sebenarnya dan salah satu pilihan menurut penulis bahwa ekonomi jaringan akan menjadi salah satu cita-cita sebagai pengganti kedudukan lembaga yang gagal tersebut, kita akan kupas nanti dan diharapkan ada masukannya.&lt;br /&gt;Deni Iman Kertabudi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5664509738247060557-6001724347090669597?l=ekonominet.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekonominet.blogspot.com/feeds/6001724347090669597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/02/tengkulak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/6001724347090669597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/6001724347090669597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/02/tengkulak.html' title='Tengkulak'/><author><name>Deni Iman Kertabudi,ST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10227584966634094311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mWFtbfAmx5A/SZKuFrGLILI/AAAAAAAAAAM/5QzKPJQROZI/S220/deni.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5664509738247060557.post-4089589540766938640</id><published>2009-02-11T04:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T21:50:25.070-08:00</updated><title type='text'>Ekonomi Jaringan</title><content type='html'>&lt;div&gt;Seperti yang telah ditulis di blogsome saya &lt;a href="http://kertabudi.blogsome.com/"&gt;http://kertabudi.blogsome.com/&lt;/a&gt;, ada beberapa pencerahan terkait , tapi saya menemukan blog dari justiani "&lt;a href="mailto:it-per@jakarta.wasantara.net.id?Subject=Re:%20[INDONESIA-L]%20JUSTIANI%20-%20Pointers%20K&amp;amp;In-Reply-To=&lt;957825781.0000@hypermail.dummy"&gt;mailto:it-per@jakarta.wasantara.net.id?Subject=Re:%20[INDONESIA-L]%20JUSTIANI%20-%20Pointers%20K&amp;amp;In-Reply-To=&lt;957825781.0000@hypermail.dummy&lt;/a&gt;&gt;" &lt;sbb:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;...........d. Ekonomi Jaringan sebagai dasar Ekonomi Rakyat&lt;br /&gt;Ekonomi Jaringan adalah antitesa dari paradigma ekonomi konglomerasi berbasis produksi masal, dan sekaligus sintesa dari ketiga faktor yang telah dijelaskan diatas, yaitu realitas bangsa, faktor pendorong global dan pasar bebas, serta dorongan revolusi te knologi informasi.&lt;br /&gt;Ekonomi kerakyatan berbasis ekonomi jaringan harus mengadopsi teknologi tinggi sebagai faktor pemberi nilai tambah terbesar dari proses ekonomi itu sendiri. Faktor skala ekonomi dan efisiensi yang akan menjadi dasar kompetisi bebas menuntut keterlibatan j aringan ekonomi rakyat, yakni berbagai sentra-sentra kemandirian ekonomi rakyat, skala besar dengan pola pengelolaan yang menganut model siklus terpendek dalam bentuk yang sering disebut dengan "pembeli adalah juga pemilik". Dengan keyakinan ini,&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia baru akan memasuki era globalisasi dengan cara-cara yang elegan dan kompetitif sebagaimana suatu korporasi "New Indonesia Incorporated". &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;mudah-mudahan di sini kita bisa berjuang dalam pengabdian yang saling menguntungkan&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5664509738247060557-4089589540766938640?l=ekonominet.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekonominet.blogspot.com/feeds/4089589540766938640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/02/ekonomi-jaringan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/4089589540766938640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5664509738247060557/posts/default/4089589540766938640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekonominet.blogspot.com/2009/02/ekonomi-jaringan.html' title='Ekonomi Jaringan'/><author><name>Deni Iman Kertabudi,ST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10227584966634094311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mWFtbfAmx5A/SZKuFrGLILI/AAAAAAAAAAM/5QzKPJQROZI/S220/deni.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
